Setiap Hari Cari Loker di Kediri dan Gagal, Sampai Akhirnya Dia Menemukan Ini

Setiap Hari Cari Loker di Kediri dan Gagal, Sampai Akhirnya Dia Menemukan Ini

Sabtu, Januari 17, 2026

Cari Loker di Kediri

Di sebuah rumah kontrakan sederhana di pinggiran Kota Kediri, hidup seorang pria bernama Ardi berjalan dengan ritme yang nyaris sama setiap hari. Bangun pagi, membantu ibunya menyiapkan dagangan kecil di depan rumah, lalu duduk berjam-jam memandangi layar ponsel. Bukan karena malas, melainkan karena ia sedang mencari sesuatu yang belum juga ia temukan: pekerjaan yang masuk akal untuk hidupnya saat ini.

Ardi bukan lulusan universitas ternama. Ia hanya lulusan SMK, jurusan administrasi perkantoran. Pengalaman kerjanya pun tidak panjang—pernah bekerja di pabrik rokok, sempat menjadi penjaga toko, lalu terhenti saat toko itu tutup. Sejak itu, ia hidup dalam fase “menunggu”: menunggu panggilan kerja, menunggu keberuntungan, menunggu keadaan berubah.

Masalahnya, keadaan jarang berubah hanya karena ditunggu.

Setiap hari Ardi membuka media sosial. Ia melihat teman-temannya memamerkan pekerjaan, seragam kantor, bahkan slip gaji. Ada yang benar-benar bekerja keras, ada pula yang hanya menampilkan potongan terbaik hidupnya. Tapi bagi Ardi, semuanya terasa sama: ia tertinggal.

Suatu sore, ketika hujan turun ringan di Kediri, Ardi duduk di teras sambil menggulir ponselnya. Ia tidak lagi membuka media sosial. Ia lelah membandingkan diri. Tangannya berhenti pada sebuah mesin pencari, dan ia mengetik: “ loker Kediri .

Puluhan hasil muncul. Banyak di antaranya mencurigakan. Ada yang meminta uang pendaftaran, ada yang alamatnya tidak jelas, ada pula yang hanya iklan berulang tanpa detail. Ardi hampir menutup layar ketika sebuah situs menarik perhatiannya: Teleworks.id.

Ia tidak langsung percaya. Pengalaman mengajarinya untuk curiga. Tapi rasa ingin tahu membuatnya membuka halaman pencarian khusus lokasi Kediri:

https://www.teleworks.id/cari/lokasi/kediri

Di halaman itu, Ardi melihat sesuatu yang jarang ia temukan sebelumnya: daftar lowongan yang tersusun rapi, deskripsi yang jelas, dan—yang paling penting—pekerjaan yang terasa relevan dengan kondisi orang sepertinya. Ada lowongan kerja jarak jauh, ada admin data, customer service online, penulis konten, bahkan pekerjaan paruh waktu yang tidak menuntut pengalaman berlebihan.

Ia membaca satu per satu, perlahan. Tidak ada janji “gaji fantastis tanpa usaha”. Tidak ada kata-kata bombastis. Justru itulah yang membuat Ardi bertahan di halaman itu lebih lama.

Beberapa hari berikutnya, rutinitas Ardi berubah. Pagi hari tetap membantu ibunya, tapi setelah itu ia duduk di meja kecil di kamarnya, membuka laptop lama yang sempat ia tinggalkan. Ia memperbarui CV-nya. Tidak ia hias berlebihan. Ia hanya menuliskan apa yang benar-benar pernah ia lakukan.

Ia melamar beberapa posisi dari daftar lowongan di halaman Kediri itu. Tidak banyak. Ardi memilih dengan hati-hati. Ia tidak lagi mengirim lamaran secara membabi buta. Ia mulai berpikir: “Apakah pekerjaan ini masuk akal untukku?”

Hari-hari berlalu tanpa kabar. Seperti biasa. Tapi kali ini, Ardi tidak sepenuhnya putus asa. Ada sesuatu yang berbeda: ia tahu ke mana ia melamar. Ia tahu perusahaan yang dituju. Ia tahu apa yang mereka cari.

Suatu pagi, saat matahari baru naik di balik atap rumah tetangga, ponselnya bergetar. Sebuah email masuk. Judulnya sederhana: Undangan Interview Online.

Ardi membaca email itu berulang kali. Ia tidak langsung melonjak kegirangan. Ada kehati-hatian di sana, sisa-sisa luka dari penolakan sebelumnya. Tapi ia juga tahu, ini nyata. Perusahaan itu menghubunginya berdasarkan lamaran yang ia kirim melalui Teleworks.

Wawancara dilakukan secara daring. Tidak mewah. Pewawancara berbicara lugas, menanyakan hal-hal praktis: kemampuan, waktu kerja, komitmen. Tidak ada pertanyaan menjebak. Tidak ada janji kosong.

Beberapa hari kemudian, email kedua datang. Kali ini isinya singkat: ia diterima.

Pekerjaan itu bukan pekerjaan impian dalam cerita motivasi. Gajinya cukup, tidak besar. Tapi stabil. Jam kerjanya jelas. Dan yang terpenting, ia bisa bekerja dari Kediri tanpa harus pergi ke kota besar.

Perubahan dalam hidup Ardi tidak terjadi secara dramatis. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada unggahan viral. Tapi pelan-pelan, ia mulai membayar kebutuhan rumah tanpa meminjam. Ibunya berhenti bertanya dengan nada khawatir. Lingkaran hidupnya mengecil, tapi menjadi lebih tenang.

Orang-orang di sekitarnya mungkin tidak tahu bahwa satu halaman pencarian lowongan—yang menampilkan daftar kerja di Kediri—telah menjadi titik balik kecil dalam hidup seseorang. Mereka tidak tahu bagaimana Ardi belajar memilih, bukan hanya berharap.

Dari luar, hidup Ardi tampak biasa. Tapi dari jarak dekat, ada sesuatu yang berubah: ia tidak lagi menunggu dunia bergerak duluan. Ia mulai bergerak dengan sadar, dengan alat yang tepat.

Teleworks bukan penyelamat hidupnya. Situs itu tidak mengubah segalanya secara ajaib. Tapi ia memberi Ardi sesuatu yang langka: akses ke peluang yang masuk akal, tanpa tipu daya, tanpa drama.

Dan bagi seseorang yang lama terjebak dalam ketidakpastian, itu sudah lebih dari cukup untuk memulai kembali.

Di kota kecil seperti Kediri, cerita seperti Ardi mungkin tidak akan masuk berita. Tapi justru di sanalah cerita-cerita nyata tentang kerja, harapan, dan keputusan kecil yang konsisten, benar-benar terjadi.